Perkembangan Keuangan Islam

Assalamualaikum Wr. Wb. Sudah cukup lama sekali tidak meng-update tulisan di dalam blog ini, dengan berbagai macam alasan seperti sibuknya tugas-tugas kuliah, kerja part-time, organisasi iSoc, sampai sibuk cari tiket buat nonton bola di stadium old trafford dan etihad hehe. Kali ini saya mau menulis tulisan akademis berkaitan dengan tugas akhir saya, lebih tepatnya ini kata pengantar dalam laporan magang saya di Ansar Finance Group, salah satu institusi keuangan Islam yang bermarkas di kota Manchester. Banyak yang menanyakan kepada saya “Jes, kenapa sih lo milih keuangan syariah? Kan sistem kita diatur secara kapitalis ga mungkin dong bisa berkembang? Lalu kenapa belajarnya di Inggris?” jawaban sederhananya ya karena saya ingin keuangan syariah berkembang dan kembali seperti kejayaan Islam dahulu. Pertanyaan tersebut sering dilontarkan oleh teman-teman dekat saya saat mengenalkan jurusan yang sedang saya ambil sekarang, cukup wajar memang karena opini yang berkembang di masyarakat adalah tingkat pengembalian pinjaman di bank syariah bahkan bisa lebih besar dari bank konvensional. Sebelum belajar lebih dalam tentang bagaimana sistem keuangan Islam beroperasi ada baiknya kita mengenal dulu lapisan luar sebelum masuk ke pusatnya.

Krisis keuangan yang di mulai bulan Agustus Tahun 2007 telah dianggap banyak pihak merupakan kondisi yang terburuk setelah perang dunia kedua. Diikuti dengan merosotnya triliunan dolar kredit derivatif dan menurunnya pertumbuhan kredit yang tidak terkendali, hasilnya dalam beberapa kurun waktu kondisi keuangan kita berada di garis degradasi.

Krisis tersebut telah melumpuhkan sistem keuangan negara-negara maju dan telah dinyatakan sebagai korban klasik lembaga keuangan yang dianggap “too big too fail”. Dana bantuan yang cukup besar jumlahnya oleh pemerintah dan suntikan likuiditas oleh bank dunia itu hanya seperti meniupkan angin di kobaran api. Hal ini mengakibatkan pasar modal telah beku, pasar saham di seluruh dunia anjlok, musnahnya triliunan dolar nilai saham perusahaan, dan rekening untuk dana pensiun. Bahkan tingkat ketidakpastian ekonomi yang belum pernah ada sebelumnya, terjadi selama 80 tahun terakhir.

Yang lebih mengerikan lagi dari krisis keuangan adalah lambatnya pertumbuhan ekonomi di beberapa negara industri yang meningkatkan angka pengangguran dalam waktu 25 tahun dan akhirnya terjadi kekurangan pangan dimana bisa mengancam nyawa lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia. Disamping dampak negatifnya luas dan sangat merugikan, disisi lain krisis keuangan telah membuat banyak pakar keuangan menyelidiki isu stabilitas keuangan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.

Perkembangan di negara-negara non-Islam

Sejarah modern dari keuangan Islam dimulai dari awal tahun 1960-an dengan proyek kecil simpan pinjam di Mesir yang telah berkembang menjadi industri bernilai miliaran dollar di tahun 2008 dan terus menguat. Selama 10 tahun terakhir industri ini telah tumbuh pesat pada tingkat 15 – 20 % per tahun meskipun umurnya masih muda, keuangan Islam sudah melalui masa pertumbuhan yang sangat luar biasa. Tingkat pertumbuhan pun diperkirakan berlanjut untuk tahun-tahun mendatang bahkan bisa melampaui tingkat pertumbuhan perbankan konvensional.

Dalam sepuluh tahun terakhir, sejumlah komunitas Muslim telah terbentuk di Eropa Barat dan Amerika Utara. Tidak seperti komunitas Muslim di Cina, Uni Soviet dan beberapa Negara Eropa Timur, Islam di Eropa Barat dan Amerika Utara lebih dipandang, istilahnya secara konsep seperti “alien”. Pada awalnya kehadiran Muslim disini terlupakan sampai akhirnya komunitas mereka mulai mempengaruhi lingkungan sosial dan bahkan lingkup politik.

Menurut data, tercatat sekitar 25 juta warga Muslim yang tinggal di Negara-negara Eropa dan Amerika Utara. Populasi ini meningkat pesat karena faktor imigrasi, faktor tingginya angka kelahiran, dan pindah agama. Meskipun jumlah umat Islam tidak lebih 10 persen dari total jumlah penduduk di negara tersebut, akan tetapi kebanyakan Muslim berkumpul di kota-kota besar sehingga terlihat secara signifikan. Dengan munculnya serangan di New York, Madrid, dan London akhir-akhir ini, malahan pemerintah Barat mencoba membangun kebijakan yang dapat menjaga hak-hak warga Muslim disamping juga melindungi hak-hak tuan rumah, Kristen atau sekuler.

Keuangan Islam sampai di Inggris di tahun 1980 dengan transaksi pertama Murabahah dan meluncurkan bank Islam pertama Al Baraka International di tahun 1982. Selama tahun 1980-an sejumlah bank investasi menawarkan pesanan produk syariah kepada klien mereka dari Negara-negara Timur Tengah, kebanyakan di ruang lingkup transaksi keuangan, leasing, dan pembiayaan proyek karena paling digemari. Saat itu industri ini belum mendapat dukungan penuh secara politik dan hukum. Sampai pada tahun 2000 sebuah tim kerja keuangan Islam berdiri dibawah kepemimpinan Andrew Buxton, mantan chairman Barclays Bank dan Eddie George dari Bank of England mengangkat isu ini ke pemerintah Inggris. Tim kerja ini juga melibatkan wakil dari departemen keuangan, FSA, dewan pergadaian, lembaga keuangan dan komunitas Muslim. Nah dari situlah mulai semakin banyak bank-bank syariah di Inggris bermunculan. Pada tahun 2012 telah tercatat negara ini menjadi urutan ke-9 negara terbesar dengan aset syariah dimana lebih dari 20 institusi menawarkan keuangan Islam dan terdapat 6 bank syariah. Disamping itu tercatat 100,000 mahasiswa internasional yang belajar di universitas (termasuk saya hehe #narsis).

Sekilas tentang keuangan Islam

Secara teori, sistem keuangan Islam itu terdiri dari sektor perbankan, pasar saham, dan pasar untuk aset sekuritas. Dalam sektor perbankan terdapat sub-sektor khusus untuk tingkat kredit atau surat berharga jangka pendek dalam perdagangan uang atau komoditas atas dasar murabahah (penjualan nilai tambah) untuk mendukung sistem pembayarannya. Produk-produk tersebut menjadi alternatif produk keuangan Islam untuk bersaing dengan sistem konvensional di pasar dunia.

Beberapa pakar keuangan percaya bahwa sistem keuangan Islam berbasis pembagian risiko akan lebih efisien untuk mengalokasikan sumber daya daripada sistem konvensional yang berbasis bunga. Karena membaginya tidak hanya keuntungan semata akan tetapi juga membagi kerugian sehingga apabila pengusaha mengalami bangkrut para investor juga harus mau menanggung kerugian tidak seperti sistem yang berbasis bunga, investor tidak peduli akan kinerja pengusaha selama pinjamannya dikembalikan dengan bunga yang dijanjikan. Alhasil para pengusaha bisa menghalalkan segala cara untuk mengembalikan sejumlah prosentasi yang telah disepakati.

Interest atau bunga atau dalam bahasa Arab disebut Riba dapat ditemukan dalam Al-Quran sebanyak 8 kali dalam 4 surat. Salah satunya yang menurut saya artinya mengerikan, yaitu didalam surat Al-Baqarah ayat 275 yang artinya “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” Serem banget kan?? Maka dari itu jangan sampai deh kita menggunakan keuntungan yang didapat dari riba. Lebih baik menjadi pedagang atau pengusaha yang sekarang Alhamdulillah sudah banyak kita temui terutama di negara kita.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan mengenai keuangan Islam ini dari cara operasionalnya hingga produk-produknya akan tetapi sepertinya sudah cukup panjang tulisannya, saya sudahi saja dengan memberikan kesimpulan. Kalau negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara sudah beralih kepada keuangan syariah, mengapa kita yang tinggal di Indonesia dimana mayoritas Muslim terbanyak tidak mau menggunakan produk keuangan Islam? Sudah saatnya kita belajar dan menerapkan sistem keuangan Islam mulai saat ini. Jadi kira-kira begitu, cukup sekian dan terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Salam hangat di musim dingin, Salford, UK.

5 thoughts on “Perkembangan Keuangan Islam

  1. Key La says:

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh…

    Artikel yang bagus!

    Sebenarnya saya punya keingintahuan yang besar pada masalah perbankan atau keuangan khususnya syariah, walaupun kadang pas baca artikel atau denger kajiannya suka bingung sendiri –”

    Dan yang paling penting kita memang seharusnya mengetahui hukum riba dan asal usulnya. Supaya kita lebih hati-hati terhadap harta kita.
    Salah satu hadist (yang tak kalah mengerikan dengan firman di tulisan tersebut) adalah:

    “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

    Imho & fyi, kajian-kajian ustadz Dr. Erwandi Tirmidzi juga bagus-bagus lho.

    Keep posting and inspiring! Barakallahufikum…

  2. yuhani says:

    Assalamu’alaikum..sy yuhani dr malaysia..sy ade pertanyaan, kamu belajr di salford ya? Phd? Sy baru bercadang utk mengambil phd di bidang kewangan islam juga..mungkin ade nasihat dr kamu?

    • wassalam kak yuhani, I’m still studying Master degree in salford uni not Phd yet but inshaAllah I will, and my suggestion is that would be better to take Islamic finance particularly Phd in Durham uni as the best of it in UK.

      salam
      J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s