My Historical Journey 2013
May 28, 2013 7 Comments
“Konstantinopel benar-benar akan dibebaskan, pemimpin terbaik adalah pemimpin yang membebaskannya dan pasukan terbaik adalah pasukan yang bersamanya” (Rasulullah SAW)
Kebetulan beberapa hari yang lalu waktu break setelah ujian blok pertama, dengan izin Allah saya mendapatkan kesempatan untuk berwisata di Turki. Alhamdulillah memang ini keinginan saya waktu kecil untuk melihat bangunan-bangunan di negara ini saat mendapat pelajaran sejarah tentang penaklukan konstantinopel. Sebenarnya saya ingin singgah di Turki sejalan dengan ibadah umroh plus akan tetapi kebetulan ada sahabat orang pakistan yang ingin pergi ke Istanbul untuk bertemu keluarganya disana. Biayanya 290 poundsterling pulang-pergi dari Manchester which is about 4,3 juta rupiah cukup murah kalau dibandingkan berangkat dari Jakarta dimana bisa sampai 12 juta rupiah.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba dengan semangat ingin melihat kota tua ratusan tahun yang lalu membuat perjalanan 4 jam terasa singkat. Saya tiba di Attaturk Havaliment airport pada jam 9 malam kemudian naik subway sampai Aksaray station, nah disini karena sudah malam yang ada hanya taksi akhirnya kami naik taksi tanpa diskusi masalah harga dan diajak muter-muter jadilah harganya melambung. Seperti biasa pelajaran naik taksi dengan tidak negosiasi masalah harga adalah hal yang klasik.. hehe. Kami sampai di hotel Tom Square Boutiq yang sangat bagus untuk harga 225.000 rupiah mungkin di Jakarta belum tentu dapet kamar yang fasilitasnya seperti bintang lima ini.
Next day, pada hari Rabu pagi saya jalan kaki (sekalian sarapan sandwich kebab) ke grand bazaar yaitu pasar tertutup yang terbesar dan juga tertua di dunia, lebih dari 3000 toko dan pengunjungnya bisa mencapai 400.000 per harinya, so huge! Kemudian melanjutkan perjalanan ke makam sultan Muhammad Mehmed II atau yang biasa terkenal Muhammad al-Fatih. Sosok favorit saya ini sangat populer yang juga di gadang-gadang kan oleh Rasulullah SAW dapat menaklukkan Konstantinopel bahkan menggunakan taktik perang cerdas dengan memindahkan 70 kapal lewat darat sejauh 3 mil dekat selat Bosporus dan membuat meriam tempur yang baru ditemukan waktu itu. Ga heran karena dari kecil anak dari Sultan Murad II ini sudah menguasai 7 bahasa: Arab, Turki, Persia, Yunani, Serbia, Italia, dan Latin. Selain itu dia menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan dari sejarah dengan mengkaji kemenangan dan sebab kekalahan umat Islam terdahulu juga Matematika, Geografi, dan Astronomi yang membuatnya rasionalis, berpikir strategis, berwawasan global dalam berencana dan juga detail dalam bertindak. What a Briliant Leader!
Lanjut lagi berpapasan dengan beselica museum yang terdapat benda-benda bersejarah terletak dibawah tanah. Nama Beselica ini diambil dari meriam tempur yang bisa menghancurkan tembok kekuasaan Konstantin yang paling kuat dibuat pada masa itu. Tidak terasa sudah waktunya zuhur, adzan pun berkumandang, saya sholat Zuhur di Masjid Sultan Ahmed yang terkenal sebagai Blue Mosque. Masjid yang memiliki 1 kuba utama, 8 kuba tambahan, dan 6 menara ini dipercaya masjid terakhir dengan bentuk Islam tradisional. Bentuknya sama-sama indah dilihat dari jauh maupun dari dekat, masih agak gak percaya bangunan super megah ini dibangun pada Tahun 1600-an, Subhanallah. Usai sholat Zuhur, karena letaknya berhadapan dengan Hagia Sophia, langsung jalan ke museum tersebut. Hagia Sophia ini dulunya Gereja yang diubah menjadi masjid setelah pasukan Romawi dikalahkan akan tetapi sekarang fungsinya menjadi museum. Lagi-lagi saya terkagum oleh arsitek pada zamannya. Didalamnya juga ada helm yang pernah digunakan saat perang. Diatas bangunan terukir nama-nama sahabat-sahabat nabi yaitu Abu Bakar ash-Sidiq, Umar Bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan Ustman bin Affan. It was wonderful experience to see this building. Dengan membayar tiket masuk sebesar 25 lira seperti memutar waktu ke masa Ottoman Empire. Jadi sejarahnya fungsi Hagia Sophia adalah gereja, setelah Muhammad al-Fatih masuk pada hari Selasa 27 Mei 1453 beliau turun dari kudanya dan langsung bersujud syukur kepada Allah SWT lalu pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan pasukannya untuk mengubah menjadi masjid yang dikenal dengan Aya Sofia. Hari Jumatnya langsung digunakan menjadi masjid untuk sholat Jumat. Sangat luar biasa!
Makam Sultan Mehmed II atau Muhammad al-Fatih
Museum Beselica
Blue Mosque in front of fountain
berfoto dengan sobat dari Pakistan
i am at ease in this beautiful Mosque
Bahkan seniman pun banyak terlihat didepan Masjid
Inside Masjid Blue Mosque, so beautiful!
Bentuk bangunan yang super megah
Tak jauh dari 2 bangunan megah tadi ada lagi yang namanya Topkapı Palace, ini adalah istana tempat Sultan Kerajaan Ottoman tinggal. Areanya luaass bangett… sampe kaki ini pegel untuk melihat pekarangan halaman istana. Tempat yang menjadi UNESCO World Heritage Site di Tahun 1995 ini tepat bersebelahan dengan laut Marmara. Kelihatan sekali disini merupakan daerah pelabuhan yang sibuk dari dahulu hingga kini. Dengan sedikit negosiasi masalah harga akhirnya perjalanan hari ini ditutup dengan naik boat keliling jembatan Bosphorus penghubung benua Asia-Eropa.
Keesokan harinya saya menjelajah bagian lain dari Istanbul dimana negara-negara Asia terdapat dibagian tersebut. Dengan menggunakan kapal boat yang agak besar dan membayar tiket 3 lira bisa sampai ke pelabuhan Kadikoy. Memang rata-rata harga transportasi disini jauh maupun dekat seharga 3 lira. Matahari sangat menyengat pada siang itu, tapi ga peduli seolah-olah turis dari Eropa (hehe lebay). Bentuk bangunan dan struktur di kota ini lebih modern dan seperti kota-kota besar pada umumnya. Tempat wisata disini tidak sepopuler seperti di Istanbul bagian Eropa dan akhirnya memutuskan kembali untuk makan malam. Dekat dengan tempat penginapan, Kumpeki area, ada kumpulan berbagai macam restaurant. memang tempatnya kecil dan sempit tapi disini makan malam yang paling mewah dan eksklusif selama di Turkey. Nom nom nom, Alhamdulillah…
Berikut ini keindahan dari Hagia Sophia :
in the 3rd day, saya pindah hotel di daerah sirkici dekat Eminonu harbour, memesan hotelnya pun dilakukan pada malam hari jadi ga perlu takut kalo lupa booking hotel, sekedar info aja saya mesen hotelnya di Booking.com. Lalu dari situ saya naik kereta dan turun di Dolmabahce Palace. Istana ini dibangun pada masa ‘Ottoman Empire’ dan digunakan untuk menyambut tamu-tamu kerajaan. Sebelumnya, Sultan dan keluarganya tinggal di Topkapi Palace tapi karena bangunanya udah ga up-to-date lagi jadi pindah ke istana ini. Letaknya persis disebelah lautan dan dekat dengan jembatan Bosporus. Di tengah-tengah istana ada lampu kristal yang besar dan cantik pemberian dari Queen Victoria. Bahkan pendiri sekaligus presiden pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk, juga menempati hingga akhirnya meninggal disini. Kalo saya bilang sih ini adalah bangunan terbaik kedua setelah Hagia Sophia, dengan bayar tiket 20 lira bisa membayangkan kehidupan Sultan dan Presiden Republik Turki. Setelah puas mendengarkan tour guide bercerita tentang sejarah Dolmabahce Palace ini saya pindah ke monumen Taksim dan gereja Ayatriada yang ga jauh dari situ. Beberapa gereja lain memang masih dibiarkan fungsinya hanya Hagia Sophia saja yang dirubah menjadi masjid.
Selain itu masih ada tempat yang ga kalah menarik di hari terakhir saya disini yaitu Galata tower dan Suleyman Mosque. Selama 5 hari disini saya punya cerita lucu sekaligus pelajaran berharga. Saya hampir dipalak ama tukang sepatu! hahaha. Ceritanya saya sedang berjalan untuk membeli makan malam. Ada seorang bapak pembersih sepatu jalan didepan saya, lalu salah satu peralatannya jatuh ke tanah. Otomatis saya reflek memanggilnya dengan bahasa Inggris “Pak! Pak! ini barangnya jatoh” lalu dia menoleh terus mungut barangnya sambil bilang terima kasih. Kemudian saya meneruskan perjalanan, tapi selang beberapa detik bapak tadi memanggil saya dengan sedikit bahasa Inggris dan body language karena kebanyakan orang Turki jarang berbahasa Inggris terutama dipinggir jalan “sini biar saya bersihkan sepatunya” saya jawab “ga usah Pak, terima kasih” karena kebetulan saya pake sandal jadi ga ngaruh juga dibersihin, tapi anehnya dia tetep maksa dan belaga bego kalo saya ga make sepatu. Dalam hati saya mungkin bapak ini mau berterima kasih makanya maksa untuk bersihin sendal. Akhirnya saya kasih deh ini sendalnya ke dia, setelah selesai dibersihin, eh.. ternyata dia minta uang padahal dia sendiri yang maksa buat ngebersihin ini sendal, saya bilang aja “ga ada pak, gue cuma punya koin ini, nih!” saya kasih deh itu koin 1 lira sambil pergi. Jadi caranya tukang sepatu ini minta duit dengan jatohin barangnya didepan turis dan seolah-olah berterima kasih dengan ngebersihin sepatu tapi akhirnya dimintain duit. What a lesson!
Galata Tower tampak dari bawah
Di dalam gereja Ayatriada
Di dalam Dolmabahce Palace, sebenarnya ga boleh foto-foto ![]()
Me looks small with this gate
Dolmabahce palace dari laut, saat saya naik boat
What a restaurant!
Makanan populer dari Turki, Donner Kebab
In between Asian and European Continents
Kurang lebih seperti itulah perjalanan bersejarah saya di kota Istanbul yang sangat menyenangkan meskipun juga melelahkan. Indeed, I am very happy with this historical journey and always would like to go back to those places. Buat teman-teman yang belum pernah ke Turki saya doakan supaya bisa berangkat kesana dan yang udah pernah kesana saya doakan juga agar kembali lagi. Amiiin ya Rabbalalamin.
Salam hangat dari Manchester,



























